CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Thursday, May 28, 2009

Kapur dan Pemadam

Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan sesuatu
kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya
ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam.
Sang guru berkata,"Saya punya permainan... Caranya begini, di tangan kiri
saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini,
maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini, maka berserulah
"Pemadam!"
Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian
mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang
perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Pemadam!", jika saya
angkat pemadam, maka katakanlah "Kapur!".
Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi keliru dan kekok,
dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa
dan tidak lagi kekok. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru
tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang
bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh
musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk menukarkan
sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin
akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi
karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka,
akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat
mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar
nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina
tidak lagi jadi persoalan, paka ian seksi menjadi hal yang lumrah, sex
sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi
suatu gaya hidup dan lain lain."
"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, anda sedikit demi sedikit
menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham cikgu... "
"Baik permainan kedua... " begitu Guru melanjutkan. "Cikgu ada Qur'an, cikgu
akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah
tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir . Ada yang mencuba
alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia
ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. "Murid-murid,
begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan
memijak-mijak anda dengan terang-terang... Kerana tentu anda akan
menolaknya mentah mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina
dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung anda perlahan-lahan dari
pinggir, sehingga anda tidak sadar." "Jika seseorang ingin membuat rumah
yang kuat, maka dibina tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat,
maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah,
tentu susah kalau tapaknya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan
dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu
persatu, baru rumah dihancurkan... "
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghentam
terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan meletihkan anda. Mulai dari
perangai anda, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun anda
muslim, tapi anda telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan."
"Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah
yang dijalankan oleh musuh musuh kita...
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak cikgu?" tanya
mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya
Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi."
"Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sedar,
akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan
bangkit serentak, baru mereka akan sadar."
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita
berdoa dahulu sebelum pulang... "
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat
belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

0 comments: